2020 : Year in Review

 Akhirnya kembali menulis di blog ini!
Alhamdulillah 😂
Tahun 2020 spesial banget, ya.
Jawaban dari keluhan banyak manusia, dijawab langsung sama Allah dengan hadirnya makhluk kecil yang amat menyusahkan.
Iya, virus corona.
Bagai disambar petir rasanya pas ada pengumuman lockdown atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kalo di Indonesia, ya.
Kita diminta untuk berbuat hal yang tidak biasa.
Belajar jarak jauh,
Silaturahim jarak jauh.
Mau marah, tapi sama siapa? Corona ini bukan salah siapapun. 
Oh, mungkin salah saya, yang pernah bergumam capek/lelah dengan padatnya aktivitas, sampai akhirnya tanpa sadar minta "pengen banget di rumah aja"

Dan akhirnya, Allah kabulkan 😩

Masks all over the place



 


Jump to the main title.

January : It was my first job experience as a teacher. Yup! I got accepted to be a teacher in kindergarten! I was so nervous but excited to meet them! 

Before pandemic

Swimming!!


February : A trip to Monas and National Library with kids! It was super tiring but it was such a nice experience with them

March - December : Pandemic.


What a short journey to review 😂
I want to tell you guys more about my study.

Jadi, Desember 2019 ada seleksi beasiswa ANNS (Arabic for Non Native Speaker) Qatar University.

Mahasiswa PBA UNJ yang berminat, bisa berpartisipasi dengan cara ikut tes TOAFL g r a t i s.

Back then, I thought, "Oh, it is free. So I dont have nothing to lose."

Dan berlangsunglah tes tersebut. Sama sekali ga kepikiran bakal pergi ke Qatar sama sekali. 

Dan ternyata, soalnya susah banget 😕

Ga mungkin banget lolos seleksi.

Tapi, Allah jawab lain. Karena seleksinya ga cuma dari hasil nilai tes TOAFL, tapi juga ditambah dari sertifikat yang pernah didapatkan selama kuliah. Akhirnya, nama Widya lulus seleksi tersebut.

Namanya kesempatan belajar gratis ke Qatar...siapa yang akan menolak, kan?

Tiket pesawat, tempat tinggal, belajar satu tahun, semuanya gratis. 

Well, it was not an easy desicion. I faced many things back then, but it is not for public, so I'm gonna skip that part.😛

Tapi ternyata, yang namanya keluar negeri, dokumennya banyak banget dan agak ribet. Ini sekiranya yang harus diurus :

  1. Paspor, 
  2. Terjemah dokumen dari Indonesia ke bahasa Arab dan bahasa Inggris oleh penerjemah resmi, 
  3. Legalisir dokumen di Notaris (menyatakan bahwa dokumen sesuai aslinya),
  4. Legalisir dokumen di Kemenkumham,
  5. Legalisir dokumen di Kemenlu,
  6. Legalisir dokumen di Kedubes Qatar.
  7. Registrasi awal di QU (Qatar University)
  8. SKCK
  9. Surat Keterangan Sehat

Lumayan, kan? Dan semuanya itu ada biayanya.

Ada pengorbanannya istilahnya.

Yup, nothing is really free or extremely instant. 
Bahkan buat masak mi instan, kita harus menyiapkan panci, air, api, kan? 
Dan harus menunggu sampai mi nya matang.

Kehujanan di jalan, ambil cuti kerja-sampai harus potong gaji😭, ketemu orang-orang baru, menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari. Karena ga cuma dokumen kita aja yang butuh dilegalisir. 

Dan alhamdulillah akhirnya semua dokumen itu selesai sebelum bulan Maret.

Tapi, ternyata Indonesia yang katanya 'denial' tentang virus tersebut, kena batunya juga. Kita harus menghadapi PSBB.

Mengajar dari rumah, Belajar di rumah, Bekerja di rumah, Beribadah di rumah, semuanya serba di rumah. Di sini kita harus bersyukur masih punya rumah/tempat tinggal, ya.

Ga kebayang sama sekali bahwa pandemi ini akan berlangsung selama setahun.

Malah berpikiran bahwa pas lebaran semuanya akan baik-baik aja. 

Ternyata, belum. 

Pandemi ini masih belum berakhir sampai di penghujung tahun ini.

Pembelajaran dari QU (Qatar University) pun, juga distance learning.

Program ini dimulai dari bulan Agustus-November (Fall Season)

Dan akan lanjut lagi di bulan Januari 2021 (Spring Season)

And then, reality hits us, we got the announcement that we will not fly to Qatar.

Here is a picture about Qatar 😜


Sedih? Iya, sedikit.
Tapi, lebih banyak bahagianya.
Karena bukan anak rantau.
Bahkan cuma pisah seminggu atau dua minggu sama keluarga aja, 
bisa nangis di pojokkan, karena itulah, ini adalah suatu hal yang bisa disyukuri.
Oke, mungkin terkesan anak manja, karena emang iya, ga betah banget kalo tinggal di tempat selain rumah.
Gampang nangis dan gampang pengen minta pulangnya.
Makanya, ini mungkin salah satu yang bisa dipetik hikmahnya. 
Widya harus lebih menyiapkan hati untuk berpisah sama orang-orang yang Widya sering temui dan sayangi.
Dan kenyataannya, 2020 Widya masih belum siap.
Masih sayang banget sama orangtua, adik, kakak, temen-temen, murid-murid, dll
Ga kuat rasanya kalo ga ketemu mereka terlalu lama.
Maka, pembelajaran daring ini, mungkin yang terbaik dari Allah untuk Widya.

Tapiiii, tetep bisa belajar bahasa Arab lagi, dengan gratis, bersama Native Speaker, yang baik hati bangetttt.

They are Mrs. Eiman and Mr. Abd Halim Widatalla.

Baik banget serius.

Cara mengajar mereka juga keren banget. Menginspirasi banget deh pokoknya!

Belajar dari hari Minggu sampai Kamis. 

Waktunya dari jam 10.00-14.00 (Doha Time)

Terus bisa ketemu banyak orang dari berbagai negara dan beragam usia. 

Malaysia, Vietnam, Belgia, Mali, Pakistan, India, Afrika Selatan, Kyrgyztan, Uzbekistan, Korea Selatan, Jepang, Kenya, Tajikistan, Turki, Georgia, Albania, Belanda, Afganistan, Rusia, dll. Banyak deh, sampe ga inget!

Bisa kenal banyak orang dari negara lain itu enak banget! Kita jadi tahu budaya mereka. Dan melatih bahasa Inggris dan bahkan belajar bahasa mereka. 

Dan lewat pembelajarannya, kita emang diminta buat mengenalkan budaya negara masing-masing. Yang bikin menantang, ya jelas, harus disampaikan dalam bahasa Arab. 

Ga bisa dipungkiri, bahwa sekali-dua kali, kita bosan dgn pembelajaran online. 

Bahkan yang mengajarpun bisa bosen kan?

Supaya semangat, yaaaaaa, sediain aja cemilan di samping laptop. 

Lumayan kan sambil belajar bisa iseng ngunyah. Karena cuma di waktu tertentu aja, dosennya minta nyalain kamera.

Ya gitu lah ya pokoknya. Semua ada kekurangan dan kelebihan.

Tugas kita? 

Banyakin dulu bersyukurnya. 

Supaya bisa Allah tambah nikmat-Nya.


Well, who knows? 
Mungkin kesempatan untuk menjelajahi dunia tertunda sebentar, nanti juga bisa jalan lagi dengan tenang :)

Dan sampai detik ini, apakah menyesal karena ambil beasiswa ANNS QU ini?
Jawabannya, engga sama sekali.
Bahagia banget bisa ketemu dosen sebaik Ustadzah Eiman dan Ustadz Abd Halim.
Seneng banget bisa kenalan sama banyak orang. Zuhaira, Maryam, Waseema, Gulzada, dll.

Ditambah lagi, Widya masih bisa hadir ke agenda yang cuma terjadi sekali seumur hidupnya temen terdekat. 
Pernikahan temen SMP. 
Jenguk temen deket kuliah. 
Masih bisa sesekali ketemu sama temen kuliah.
Masih bisa ketemu tiap hari sama orang tersayang di rumah.
Masih bisa mengajar murid-murid (kerja)
Alhamdulillah 😇





Komentar

Postingan Populer